Kapan Anak Boleh Punya Gadget Sendiri? Psikolog Ingatkan Orangtua soal Kesiapan Mental
Psikolog mengingatkan orangtua agar tidak terburu-buru memberikan gadget pribadi kepada anak sebelum siap secara emosional dan mental.
Di tengah semakin masifnya penggunaan teknologi digital, banyak orangtua mulai bertanya kapan waktu yang tepat bagi anak untuk memiliki gadget sendiri. Psikolog mengingatkan, keputusan tersebut tidak bisa hanya didasarkan pada usia, tetapi juga kesiapan emosional dan kemampuan anak mengontrol diri.
Fenomena anak yang semakin akrab dengan gadget kini menjadi perhatian banyak pihak. Tidak sedikit anak usia dini yang sudah terbiasa menggunakan smartphone untuk menonton video, bermain gim, hingga mengakses media sosial. Namun, penggunaan tanpa pengawasan dinilai dapat berdampak pada kesehatan mental, kemampuan sosial, hingga pola belajar anak.
Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Theresia Novi Puspita Chandra, menyarankan orangtua tidak terburu-buru memberikan gadget pribadi kepada anak. Menurutnya, yang paling penting bukan sekadar usia, melainkan apakah anak sudah mampu memahami aturan penggunaan, memiliki kontrol diri, serta bisa membedakan konten yang aman dan berbahaya.
Anak yang belum siap secara emosional cenderung lebih mudah mengalami ketergantungan gadget. Kondisi ini dapat terlihat dari perubahan perilaku seperti mudah marah ketika gadget diambil, sulit fokus belajar, hingga lebih senang menyendiri dibanding berinteraksi langsung dengan keluarga atau teman sebaya.
Psikolog juga menekankan bahwa gadget sebaiknya tidak dijadikan “pengasuh instan” agar anak diam atau tidak rewel. Kebiasaan tersebut dapat membuat anak terlalu bergantung pada stimulasi digital sejak dini. Untuk anak di bawah usia dua tahun, penggunaan gadget bahkan sebaiknya sangat dibatasi. Sementara pada usia di atas dua tahun, penggunaan perlu dilakukan dengan pendampingan dan durasi yang jelas.
Di era digital saat ini, tantangan orangtua memang semakin besar. Selain risiko kecanduan, anak juga rentan terpapar konten negatif, perundungan daring, hingga gangguan kesehatan mental akibat screen time berlebihan. Pemerintah bahkan mulai memperketat aturan perlindungan anak di ruang digital melalui kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia tertentu.
Sejumlah diskusi di media sosial juga menunjukkan kekhawatiran serupa. Banyak orangtua dan pengguna internet mengeluhkan anak-anak yang lebih sibuk bermain gadget dibanding berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ada pula yang mengingatkan pentingnya membatasi penggunaan gadget saat makan atau berkumpul bersama keluarga.
Karena itu, para psikolog menyarankan orangtua membuat aturan penggunaan gadget sejak awal, termasuk durasi screen time, jenis aplikasi yang boleh diakses, serta waktu bebas gadget di rumah. Orangtua juga dianjurkan menjadi contoh dalam penggunaan teknologi agar anak tidak melihat gadget sebagai pusat aktivitas sehari-hari.
Selain pembatasan, anak juga perlu didorong lebih banyak melakukan aktivitas nyata seperti olahraga, bermain di luar rumah, membaca, hingga membangun interaksi sosial langsung. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan perkembangan emosional dan sosial anak di tengah derasnya arus teknologi digita



